Ahli Ungkap Pemicu Utama Banjir Bandang Nepal: Gletser Runtuh

Jakarta, Chief Tablet Indonesia

Lembaga Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) mengungkap

banjir bandang

dan longsor yang menerjang

Nepal

pada Rabu (26/8), dipicu runtuhan bagian bawah gletser. Peristiwa ini menewaskan setidaknya 165 orang dan 1.384 lainnya termasuk turis hilang.

Penyebab pasti runtuhnya gletser tersebut belum diketahui pasti, meski pihak berwenang di Nepal menduga ada kejadian gempa bumi yang memicu gletser tersebut. Namun, USGS menyatakan bahwa getaran yang dilaporkan sebenarnya merupakan gelombang seismik yang dihasilkan hantaman batuan es yang runtuh, disusul oleh aliran material puing-puing.

Melansir

Reuters

, perbandingan citra satelit sebelum dan sesudah kejadian dari Planet Labs menunjukkan bahwa lereng gunung yang awalnya hijau dan asri kini tertimbun endapan sedimen dan puing-puing kecoklatan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Sudah terkonfirmasi bahwa sebagian besar ujung gletser runtuh hingga memicu bencana ini, kemungkinan besar turut membawa serta batuan dan sedimen dalam jumlah besar,” kata Vikram Gupta, ahli geologi teknik di Universitas Sikkim, India.

Ilmuwan bumi Dan Shugar juga menyampaikan bahwa citra tersebut mengindikasikan mencairnya salju dalam jumlah besar dalam rentang 24 jam sebelum bencana terjadi.

“Beberapa gletser di lembah tersebut masih diselimuti salju kemarin, tapi hari ini sebagian besar sudah menjadi es terbuka. Dengan kata lain (meski saya belum melihat data stasiun cuaca) suhunya kemungkinan sedang hangat,” kata Shugar.

Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 2023 mencatat bahwa pegunungan beriklim salju di Nepal sudah kehilangan hampir sepertiga cadangan esnya hanya dalam kurun waktu 30 tahun terakhir akibat pemanasan global. PBB menambahkan bahwa gletser di Nepal mencair 65 persen lebih cepat pada satu dekade terakhir dibanding dekade sebelumnya.

“Dari citra satelit Planet Labs pagi ini, terlihat bagian bawah gletser terlepas di ketinggian sekitar 5.200 meter dan jatuh menghantam dasar lembah sekitar 1.200 meter di bawahnya,” kata Shugar.

Menurut dia, aktivitas pembangunan di sekitar lokasi juga bisa menjadi salah satu faktor pemicu. Para peneliti juga akan melakukan penelitian lebih lanjut apakah krisis iklim berperan dalam masalah ini.

Andrew Zolli, Chief Impact Officer di Planet Labs, menyatakan bahwa organisasinya akan segera merilis citra satelit yang lebih lengkap dengan lisensi terbuka guna membantu upaya penanganan darurat di lapangan.

“Analisis Dan menunjukkan bahwa kejadian ini kemungkinan merupakan dampak dari runtuhnya gletser akibat pencairan yang terjadi sangat cepat,” tulis Zolli di LinkedIn.

“Apakah hal itu dipengaruhi oleh faktor iklim atau tidak, tentu akan menjadi fokus kajian dalam beberapa hari mendatang,” lanjut dia.

Sejumlah proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) terletak di area yang terdampak paling parah di Distrik Rasuwa, sebuah wilayah pegunungan yang dihuni sekitar 50.000 jiwa.

Otoritas Pengurangan dan Manajemen Risiko Bencana Nasional Nepal menyampaikan bahwa banjir bandang akibat gletser ini terjadi di Sungai Lhende akibat tanah longsor yang berlangsung sekitar 20 km di sebelah timur laut titik perbatasan Nepal-Tiongkok.

“Banjir bandang tersebut disebabkan oleh longsoran es dan batuan di wilayah Nepal,” ujar Prakash Pokharel, ahli geologi dari lembaga tersebut yang telah menganalisis citra satelit dari Planet Labs.

Bencana banjir, tanah longsor, longsoran es, dan kekeringan tercatat makin sering terjadi dengan tingkat keparahan yang meningkat di kawasan Hindu Kush Himalaya. International Centre for Integrated Mountain Development menyatakan bahwa perubahan iklim yang terakselerasi di wilayah udara, darat, dan air di daerah tersebut menjadi ancaman nyata bagi masyarakat setempat.

Lembaga tersebut menambahkan pada hari Rabu bahwa banjir bandang mengirimkan gelombang arus air deras yang membawa sedimen serta batu-batu besar melalui sistem aliran Sungai Bhote Koshi dan Trishuli. Ketinggian air sungai di wilayah Galchhi di hilir bahkan dilaporkan melonjak hingga sembilan meter hanya dalam waktu 30 menit.

(dmi)

Baca lagi: Teheran Sanjung China yang Tegas Tolak Sanksi Ekonomi AS ke Iran

Baca lagi: Paranormal Activity versi Broadway Jadi Sensasi Pentas Teater Horor

Baca lagi: Airlangga Ungkap Belanja Wisatawan RI ke Luar Negeri Capai Rp118,6 T

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: