
Jakarta, Chief Tablet Indonesia
—
Wilayah Indonesia dikelilingi oleh zona
megathrust
yang dianggap sebagai ancaman gempa yang besar. Lantas, apa sebenarnya zona megathrust?
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono menjelaskan zona megathrust sebagai bagian dari zona subduksi, yaitu bidang kontak tempat satu lempeng tektonik menunjam ke bawah lempeng lainnya.
Menurut Daryono, zona ini memiliki bidang kontak yang relatif dangkal dan dapat terkunci dalam waktu lama. Kondisi ini membuat energi atau regangan terus menumpuk.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketika regangan tersebut dilepaskan secara tiba-tiba melalui pergeseran besar pada bidang megathrust, gempa bumi dengan kekuatan besar dapat terjadi, bahkan mencapai lebih dari magnitudo 8.0.
“Jika rupture menyebabkan deformasi dasar laut yang signifikan, gempa tersebut juga dapat memicu tsunami,” kata Daryono saat dihubungi
Chief TabletIndonesia.com
, Senin (24/8).
Berdasarkan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024, terdapat 14 segmen megathrust yang dipetakan dalam keseluruhan sistem regional. Jumlah tersebut terbagi menjadi 11 segmen yang berada di Indonesia dan 3 segmen di Filipina.
Daryono memaparkan wilayah Indonesia yang berhadapan dengan sistem subduksi tersebut antara lain adalah pantai barat Sumatra, Jawa bagian selatan, Bali, Nusa Tenggara dan Sulawesi Utara.
“Secara geografis, wilayah yang berhadapan dengan sistem subduksi tersebut terutama meliputi pantai barat Sumatra, selatan Jawa, Bali-Nusa Tenggara, serta kawasan Sulawesi Utara. Selain itu, terdapat sistem subduksi di kawasan Banda dan Indonesia bagian timur yang memiliki karakter tektonik berbeda dan tetap menjadi sumber bahaya gempa,” katanya.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa zona megathrust bukan berarti seluruh wilayah tersebut akan mengalami gempa besar secara bersamaan.
Pasalnya, setiap segmen memiliki karakteristik, geometri, laju konvergensi, tingkat penguncian, dan sejarah kegempaan yang berbeda.
Berikut daftar 14 zona megathrust yang berpotensi berdampak terhadap Indonesia berdasarkan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024:
1. Megathrust Aceh-Andaman
Potensi magnitudo maksimum M9,2.
2. Megathrust Nias-Simeulue
Potensi magnitudo maksimum M8,7.
3. Megathrust Batu
Potensi magnitudo maksimum M7,8.
4. Megathrust Mentawai-Siberut
Potensi magnitudo maksimum M8,9.
5. Megathrust Mentawai-Pagai
Potensi magnitudo maksimum M8,9.
6. Megathrust Enggano
Potensi magnitudo maksimum M8,9.
7. Megathrust Jawa
Potensi magnitudo maksimum M9,1.
8. Megathrust Jawa bagian barat
Potensi magnitudo maksimum M8,9.
9. Megathrust Jawa bagian timur
Potensi magnitudo maksimum M8,9.
10. Megathrust Sumba
Potensi magnitudo maksimum M8,9.
11. Megathrust Sulawesi Utara
Potensi magnitudo maksimum M8,5.
12. Megathrust Palung Cotabato
Potensi magnitudo maksimum M8,3.
13. Megathrust Filipina Selatan
Potensi magnitudo maksimum M8,2.
14. Megathrust Filipina Tengah
Potensi magnitudo maksimum M8,1.
Dari keseluruhan segmen yang ada, segmen Mentawai-Siberut, Sumba dan Selat Sunda kerap menjadi perhatian Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) karena terdapat indikasi
seismic gap,
bagian sistem subduksi yang dalam catatan sejarah mengalami relatif sedikit gempa besar dalam periode tertentu.
“Semua segmen ini bisa berpotensi gempa besar. Namun demikian, ini ada yang kita curigai, ada beberapa segmen yang kemungkinan sudah lama tidak terjadi gempa-gempa besar. Jadi contohnya ini segmen Mentawe-Siberut, itu yang berkali-kali kita sampaikan sudah lama tidak terjadi gempa,” jelas Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto kepada
Chief TabletIndonesia.com
, Senin (24/8).
“Terus segmen yang di Selat Sunda ini, sebenarnya masuk ke segmen Jawa bagian Barat ya. Ini juga sudah lama tidak terjadi gempa sama segmen di Sumba. Ini juga sudah lama tidak terjadi gempa-gempa magnitudo besar. Jadi, tiga segmen ini yang kita terus monitor saat ini,” tambahnya.
Sebagai catatan, BMKG menegaskan kondisi tersebut merupakan potensi jangka panjang, bukan prediksi gempa yang akan segera terjadi.
Lebih lanjut, Wijayanto menyoroti dua dampak yang dapat dipicu oleh megathrust. Pertama, tsunami yang dapat terjadi ketika gempa berada di bawah laut dan menyebabkan perubahan atau pergeseran dasar laut.
Energi dari gempa disebut dapat memicu gelombang tsunami. Misalnya, apabila gempa besar terjadi di segmen Mentawai-Sibereut.
“Kalau rilisnya di segmen Mentawai-Cibereut, tentunya nanti daerah Sumatera Barat, daerah Sumatera Utara, daerah Bengkulu itu akan terdampak, dan mungkin bisa juga nanti berdampak ke negara-negara sekitar Indian Ocean,” jelasnya.
Wijayanto mengatakan BMKG telah memiliki sistem peringatan dini tsunami yang dapat memberikan informasi kepada masyarakat sekitar terkait apa saja yang perlu dilakukan jika terjadi bencana.
Selain tsunami, katanya, megathrust juga dapat menyebabkan guncangan yang kuat saat terjadi gempa. Guncangan ini berpotensi menimbulkan kerusakan infrastruktur maupun bangunan, bahkan tanah longsor hingga kebakaran.
(nad/lom)
Baca lagi: Bruno Mars Skip Jakarta dan KL di Tanggal Baru The Romantic Tour
Baca lagi: FOTO: Intip Proses Perakitan Drone Canggih Buatan Bandung
Baca lagi: Kepala BIN Dorong Aturan Cegah Spionase dan Intervensi Asing


