
Jakarta, Chief Tablet Indonesia
—
Instruksi itu muncul tepat di depan mata, bukan di layar komputer, bukan pula di telepon genggam. Melainkan mengambang di ruang pandang melalui perangkat
mixed reality
yang saya kenakan di IBM Industry 4.0 Studio, Singapura beberapa waktu lalu.
Dalam simulasi pemeriksaan dan penelusuran gangguan pada sistem IBM z17, AI memandu saya langkah demi langkah. Informasi dari manual, video, dan panduan pemeriksaan dihimpun, diolah, lalu disajikan dalam hitungan singkat menjadi arahan yang bisa langsung diikuti.
Untuk beberapa menit, rasanya seperti menjadi Tony Stark sang Iron Man di film-film Marvel. Namun setelah sensasi futuristik itu lewat, justru yang tertinggal adalah rasa penasaran. Ketika mesin mulai mampu melihat, menilai, merekomendasikan, bahkan menentukan urutan tindakan, lantas di mana kendali yang masih dipegang manusia?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di studio itu, AI tidak hadir sebagai
chatbot
yang menunggu pertanyaan. Teknologi tersebut ditempatkan di tengah pekerjaan sebenarnya. Salah satu demonstrasi paling mencolok menghadirkan robot menyerupai anjing yang dirancang memasuki area berbahaya.
Dengan sensor dan AI generatif multimodal, robot itu dapat membaca kondisi visual, suara, serta lingkungan untuk mendeteksi ancaman dan membantu mencari pekerja yang terjebak.
Di sudut lain, AI digunakan untuk memeriksa komponen kendaraan, mendeteksi lebih dari 15 jenis cacat pada komponen memori, serta memantau panel surya melalui drone.
General Manager IBM Manufacturing Solutions Ong Tun Kim mengatakan demo-demo tersebut tidak dibangun dari gagasan abstrak tentang masa depan.
“Demo yang Anda saksikan dalam ajang Think hari ini berangkat dari kasus-kasus nyata yang kami tangani bersama para klien. Ini adalah tantangan yang mereka hadapi dalam operasional sehari-hari,” ujarnya.
Tim IBMÂ menurut Kim duduk bersama klien, memetakan persoalan yang benar-benar mereka hadapi, lalu menyusun peta jalan transformasi. Karena itu, setiap sistem dirancang secara khusus mengikuti karakter industri dan kebutuhan masing-masing pengguna.
Terdengar sederhana, tetapi menyimpan pergeseran penting. Setelah bertahun-tahun dunia terpukau oleh kemampuan AI menghasilkan teks dan gambar, perdebatan kini bergerak ke wilayah yang lebih substantif. Bagaimana teknologi itu masuk ke organisasi, bekerja bersama manusia, dan menghasilkan keputusan yang benar-benar dipakai.
Di Singapura, semua pertanyaan itu terasa sangat konkret.
Dalam IBM Think 2026, Menteri Pengembangan Digital dan Informasi Singapura Josephine Teo menyoroti jarak antara penggunaan AI oleh individu dan kemampuan organisasi menghasilkan dampak ekonomi nyata. Banyak individu mungkin telah menggunakan AI untuk menulis, mencari informasi, atau merangkum dokumen.
Namun produktivitas personal tidak otomatis berubah menjadi produktivitas perusahaan maupun pemerintah.
Karena itu, fokus Singapura tidak berhenti pada berapa banyak orang menggunakan AI. Teknologi didorong masuk ke proses bisnis, mengubah cara organisasi bekerja, dan menciptakan nilai yang dapat diukur.
Menteri Teo menyebut pemerintah Singapura memusatkan perhatian pada empat sektor, yakni manufaktur, kesehatan, keuangan, dan konektivitas. Menurutnya, keempat sektor tersebut secara bersama-sama menyumbang sekitar 40 persen produk domestik bruto negara itu.
Di sinilah ruang pamer teknologi bertemu dengan strategi negara.
AI tak lagi diperlakukan sebagai aksesori digital semata. Ia mulai menjadi lapisan baru di antara data, institusi, dan keputusan. Di sektor layanan publik, AI dapat membantu memetakan siapa yang paling rentan. Di rumah sakit, AI mulai menilai bagaimana tenaga medis bekerja di tengah situasi darurat.
General Manager IBM Asia Pacific Hans Dekkers menyebut kompetisi menuju organisasi berbasis AI sudah berlangsung. Menurutnya, institusi yang unggul bukan mereka yang memiliki paling banyak eksperimen, melainkan yang mampu menanamkan AI ke seluruh operasi dengan tiga fondasi: AI yang dapat dipercaya; data yang siap digunakan; serta infrastruktur digital yang terbuka, hybrid, dan berdaulat.
Namun ketika AI bergerak dari penciptaan nilai ekonomi menuju pelayanan publik, taruhannya berubah. Teknologi tidak lagi sekadar menentukan proses mana yang bisa dibuat lebih efisien, tetapi juga dapat memengaruhi siapa yang diprioritaskan dan ke mana sumber daya dialihkan.
Ketika data menentukan prioritas
Di Samarinda, IBM dan Yayasan Kota Kita mengembangkan platform AI bernama SADAR, singkatan dari System Analysis for Disaster and Adaptive Response.
Sistem ini dirancang untuk membantu pemerintah memetakan risiko banjir, panas perkotaan, tekanan penggunaan lahan, dan urbanisasi. Platform berbasis peta digital tersebut menggabungkan data iklim, data historis, kondisi fisik wilayah, serta informasi sosial-ekonomi.
Direktur Eksekutif Kota Kita Ahmad Rifai mengatakan kota-kota di Indonesia sesungguhnya memiliki cukup banyak data. Masalahnya, data tersebut tersebar di berbagai instansi, tidak disatukan, dan belum selalu diolah menjadi dasar keputusan.
Contoh konkretnya, data lokasi banjir dapat dipadukan dengan informasi kemiskinan, jumlah penyandang disabilitas, serta wilayah yang paling sedikit menerima bantuan pada periode sebelumnya. Hasilnya bukan sekadar peta wilayah tergenang. Lebih dari itu, sistem dapat membantu memberikan gambaran mengenai siapa yang paling rentan ketika bencana datang.
Dengan kata lain, AI mulai ikut membentuk jawaban atas pertanyaan yang lebih spesifik: siapa yang harus ditolong lebih dahulu, wilayah mana yang harus menerima sumber daya, dan kelompok mana yang tidak boleh terlewatkan.
Karena proyek ini masih berupa pilot, Rifai mengakui dampak langsungnya belum dapat diukur. Sistem tersebut baru menunjukkan bahwa berbagai jenis data dapat dihimpun dan dibaca bersama. Efektivitas sebenarnya baru terlihat ketika pemerintah menggunakannya dalam perencanaan dan berani menjadikan hasil analisis sebagai dasar tindakan.
Di titik ini, teknologi menyerupai sebuah kompas. Ia dapat menunjukkan arah, tetapi tidak berjalan sendiri. Pemerintah tetap harus memutuskan apakah arah itu layak dipercaya, apakah datanya cukup lengkap, dan apakah keputusan yang diambil benar-benar berpihak kepada mereka yang paling rentan.
Kendali manusia dan batas tidak boleh dilampaui
Batas antara rekomendasi mesin dan otoritas manusia menjadi lebih sensitif ketika AI memasuki sektor kesehatan.
Changi General Hospital mengembangkan platform pelatihan penanganan insiden korban massal anak dengan menggabungkan
mixed reality
dan dua sistem AI IBM.
Sistem watsonx.ai digunakan untuk membaca serta menganalisis jalannya skenario. Sementara watsonx Orchestrate membantu mengatur alur kerja dan memantau kinerja selama simulasi.
Sistem tersebut merekam komunikasi suara, tindakan medis, koordinasi antartim, dan data lain selama pelatihan. Salah satu komponen utamanya, AI Assessor, digunakan untuk menemukan celah dalam respons dan memberikan penilaian kinerja yang lebih terukur.
Senior Consultant di Department of Emergency Medicine, Changi General Hospital, Jimmy Goh mengatakan kombinasi AI,
mixed reality,
dan keahlian klinis digunakan untuk meningkatkan kesiapan tenaga medis menghadapi insiden korban massal pediatrik. Sistem itu dirancang untuk menghasilkan evaluasi yang lebih objektif, memperbaiki koordinasi, dan membantu tim mengambil keputusan lebih cepat ketika setiap detik berarti.
Namun, Goh juga menegaskan garis yang tidak boleh dilampaui.
“Kita tidak boleh sampai pada tahap ketika pengambilan keputusan diserahkan kepada AI. Jika itu terjadi, manusia sebagai tenaga kesehatan akan kehilangan kendali dan otonominya,” ujar Goh.
AI dapat mengolah lebih banyak data daripada manusia dalam waktu jauh lebih singkat. AI juga mampu menemukan pola yang luput dari pengamatan, menyusun prioritas, dan menawarkan tindakan berikutnya. Namun kecepatan analisis tidak sama dengan legitimasi untuk memutuskan.
Beberapa menit mengenakan perangkat
mixed reality
di Singapura memang membuat masa depan terasa dekat. Namun pengalaman itu juga memperlihatkan sesuatu yang mudah terlewat di tengah kekaguman terhadap teknologi.
AI tidak mengambil alih dunia dalam satu lompatan besar. Ia masuk perlahan, melalui satu rekomendasi, satu dasbor, satu skor risiko, dan satu keputusan operasional pada satu waktu.
(sur)
Add
as a preferred
source on Google
[Gambas:Video Chief Tablet]
Baca lagi: Satpam SPPG Jadi Tersangka Otak Pencurian 1.700 Ompreng MBG di Tangsel
Baca lagi: FOTO: CNN Indonesia Gelar Islamic Travel Connect 2026
Baca lagi: Lurah di Medan Kena Sanksi Buntut Ejek Warga ‘Cie Curhat’ Lampu Jalan


