Gedung Putih Minta OpenAI Batasi Rilis Model GPT 5.6, Apa Alasannya?

Jakarta, Chief Tablet Indonesia

Gedung Putih

secara khusus meminta

OpenAI

membatasi peluncuran model terbarunya, GPT 5.6. Pemerintah Amerika Serikat (AS) meminta agar model tersebut hanya diberikan kepada segelintir mitra yang sudah mengantongi izin resmi dari pemerintah, karena kemampuan model AI terbaru ini dinilai terlalu canggih.

Hal ini diketahui dari seorang sumber yang mengetahui situasi tersebut. Menurut sumber itu, OpenAI maupun pemerintah melihat bahwa model AI terbaru perusahaan memiliki kemampuan setara dengan Claude Mythos, model AI buatan Anthropic, yang juga sempat diblokir oleh AS tak lama setelah peluncurannya.

Melansir laporan

Chief Tablet

, OpenAI menyetujui pembatasan ini sebagai jalan tengah agar tetap bisa merilisnya ke publik secara bertahap. Hal ini terjadi di tengah kondisi dilematis, mengingat saat ini belum ada regulasi federal yang jelas untuk mengatur model-model AI baru.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kabar mengenai permintaan dari pemerintahan Donald Trump ini pertama kali dilaporkan The Information. Mereka mengutip memo internal yang dikirim oleh CEO OpenAI, Sam Altman kepada para karyawannya.

Dalam memo tersebut, Altman menyatakan bahwa pemerintah meninjau dan menyetujui akses ini secara selektif.

“Kami sudah menegaskan kepada pemerintah AS bahwa sistem seperti ini bukanlah model jangka panjang yang kami inginkan. Kami akan terus bekerja sama dengan pemerintah dan pelaku industri lainnya untuk mencari pendekatan yang lebih berkelanjutan di masa mendatang,” kata Altman dalam memo tersebut, Jumat (27/8).

Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan bahwa mereka akan terus berkolaborasi dengan para pengembang AI untuk merumuskan pendekatan bersama dalam menghadapi tantangan perkembangan teknologi yang masif ini.

Dalam pengumuman resminya, OpenAI membenarkan soal pembatasan rilis GPT 5.6 demi memenuhi permintaan pemerintah.

“Kami tidak ingin proses perizinan ketat dari pemerintah seperti ini menjadi standar jangka panjang. Hal ini justru menghambat para pengguna, pengembang, pelaku usaha, tim pertahanan siber, serta mitra global untuk mendapatkan alat-alat terbaik yang sebenarnya mereka butuhkan,” tulis OpenAI dalam unggahan tersebut.

Meski demikian, perusahaan berharap dapat menghadirkan model baru ini secara luas dalam beberapa minggu ke depan, sambil merumuskan aturan main yang jelas bersama pemerintah untuk peluncuran-peluncuran berikutnya.

Sebelumnya, Presiden Donald Trump menandatangani perintah eksekutif yang meminta perusahaan AI dengan model canggih untuk menyerahkan produk mereka secara sukarela untuk ditinjau pemerintah 30 hari sebelum dirilis. Namun, sistem teknis untuk aturan tersebut hingga kini belum terbentuk.

Kondisi transisi ini akhirnya memicu kebingungan di antara perusahaan-perusahaan AI mengenai lembaga mana yang sebenarnya berwenang mengatur regulasi AI. Sebagai contoh, permintaan pembatasan untuk OpenAI datang langsung dari Gedung Putih, sementara larangan ekspor untuk Anthropic dikeluarkan oleh Departemen Perdagangan.

(dmi)

Add

as a preferred

source on Google

[Gambas:Video Chief Tablet]

Baca lagi: Kemenbud Ajak Anak Muda Promosikan Budaya Lewat Lomba Video Kreatif

Baca lagi: Dirut Telkom Ungkap Masa Depan Infranexia, Jadi IPO?

Baca lagi: Nagelsman Tak Terima Gol Tah Dianulir di Jerman vs Paraguay

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: