
Jakarta, Chief Tablet Indonesia
—
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (
BMKG
) menemukan fenomena pergeseran tanah di sejumlah wilayah pasca
gempa
M7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (15/8).
Fenomena ini menjadi perhatian karena berkaitan dengan respons kerak bumi dan material permukaan terhadap guncangan gempa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut BMKG, gempa bumi tidak hanya mengguncang permukaan tanah, tetapi juga dapat menyebabkan pergerakan pada patahan. Fenomena ini dapat mengubah bentuk dan ketinggian permukaan tanah.
Akibatnya, di wilayah tertentu permukaan tanah bisa mengalami pergeseran secara vertikal maupun horizontal.
“Gempa bumi tidak hanya mengguncang permukaan. Pergerakan pada patahan dapat menyebabkan perubahan bentuk dan elevasi permukaan tanah, termasuk pergeseran tanah pada wilayah tertentu,” tulis BMKG di Instagramnya, Selasa (1/9).
Dalam unggahan tersebut, BMKG menyisipkan ilustrasi yang menunjukkan bagaimana tanah dapat bergeser akibat gempa bumi. Gambar tersebut menunjukkan keadaan sebelum dan sesudah gempa terjadi.
Sebelum gempa, kondisi tanah digambarkan relatif stabil dengan permukaan jalan yang rata dan tanah yang menopang jalan dalam kondisi seragam.
Setelah gempa terjadi, lapisan tanah terlihat dapat bergerak dan mengalami perubahan bentuk.
Sebagian tanah dapat bergerak turun atau naik secara vertikal, sementara bagian lainnya dapat mengalami pergeseran secara horizontal. Pergerakan tanah yang tidak seragam menyebabkan deformasi perkerasan maupun retakan memanjang pada aspal.
“Pergerakan vertikal yang tidak seragam dapat menyebabkan deformasi permukaan jalan,” imbuh BKMG.
Fenomena ini bisa terlihat di lapangan melalui sejumlah perubahan seperti permukaan jalan yang menjadi bergelombang atau bergeser, bangunan yang mengalami pergeseran atau kemiringan, munculnya retakan pada tanah dan jalan, serta perbedaan ketinggian antarbagian permukaan tanah.
Dalam kondisi tertentu, air atau material pasir dapat muncul ke permukaan tanah.
Lebih lanjut, BMKG mengatakan dampak guncangan gempa dapat berbeda antara satu lokasi dengan lokasi lainnya. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti jenis dan karakteristik tanah, kandungan air dalam tanah, kondisi topografi dan lereng, beban bangunan di atas tanah serta intensitas guncangan yang dirasakan.
BMKG turut menunjukkan hasil survei pada beberapa wilayah di Flores. Salah satunya adalah pergerakan tanah yang terjadi di Jembatan Marapokot, Kabupaten Nagekeo, NTT.
Hasil analisis ini menemukan karakteristik berupa tanah lunak yang memiliki daya dukung rendah dan rentan mengalami pergerakan vertikal (settlement) di lokasi ini. Pergerakan vertikal yang tidak seragam juga dapat menjadi pemicu deformasi dan retakan pada permukaan aspal.
Kemudian, BMKG juga melakukan survei lapangan di wilayah Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, NTT. Analisa ini menemukan adanya pergeseran tanah berupa rekahan pada permukaan tanah.
“Kondisi ini menunjukkan adanya kegagalan tanah akibat guncangan gempa yang kuat, sehingga melebihi kemampuan tanah dalam menahan deformasi geser,” kata BMKG.
(nad/lom)
Baca lagi: Prediksi Susunan Pemain Timnas Indonesia U-20 vs Laos
Baca lagi: Xanh SM Hadirkan Ride-Hailing Listrik dan Lapangan Kerja Berkelanjutan
Baca lagi: Malaysia Tambah Kuota Subsidi usai Turunkan Harga BBM Non-Subsidi


