
Daftar Isi
Mars-Uranus berdekatan
Bumi di aphelion
Bulan baru
Hujan meteor Delta Aquarids
Bulan purnama
Jakarta, Chief Tablet Indonesia
—
Sejumlah fenomena akan menghiasi langit bulan Juli, mulai dari
Bumi
berada di titik terjauh dari Matahari atau aphelion hingga
hujan meteor
Delta Aquarids. Simak daftar lengkapnya.
Beberapa fenomena langit pada Juli dapat dinikmati dengan mata telanjang, sementara beberapa lainnya memerlukan bantuan alat seperti teropong.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk dapat menyaksikan fenomena-fenomena ini, langit malam perlu dalam kondisi cerah, tidak tertutup awan tebal, serta jauh dari polusi cahaya perkotaan.
Dikutip dari
Seasky
dan
Time and Date
, berikut daftar fenomena astronomi yang akan menyapa langit pada Juli:
Mars-Uranus berdekatan
Pada 4 Juli, planet Mars dan Uranus dapat terlihat berdekatan di langit. Fenomena ini cukup diamati menggunakan sepasang teropong.
Pada tanggal yang sama, gugus bintang Pleiades juga dapat ditemukan berdekatan dengan kedua planet tersebut. Pleiades merupakan bagian dari rasi bintang Taurus dengan magnitudo 1,6, menjadikannya salah satu gugus terbuka paling terang di langit.
Pleiades juga dikenal sebagai Tujuh Bersaudara atau Seven Sisters dan menjadi salah satu objek paling mudah dikenali di langit malam berkat susunannya yang khas dan cahaya kebiruan yang lembut.
Gugus ini paling baik diamati pada Oktober hingga April, namun pada bulan-bulan musim panas di belahan Bumi utara, Pleiades masih dapat terlihat dekat cakrawala.
Bumi di aphelion
Pada 6 Juli, Bumi berada di titik terjauhnya dari Matahari dalam orbitnya, yang disebut aphelion. Istilah aphelion berasal dari bahasa Yunani kuno, “apo” yang berarti jauh dan “helios” yang berarti Matahari.
Bumi mengorbit Matahari dalam lintasan elips, sehingga terdapat satu titik terdekat dengan Matahari (perihelion) dan satu titik terjauh dari Matahari (aphelion).
Bumi berada di titik aphelion sekitar dua pekan setelah solstis Juni, saat belahan Bumi utara sedang menikmati musim panas.
Sebaliknya, Bumi berada di titik perihelion sekitar dua pekan setelah solstis Desember, saat belahan Bumi utara berada di musim dingin.
Bulan baru
Bulan baru akan terjadi pada 14 Juli, tepatnya pada pukul 16.45 WIB. Pada fase ini, Bulan berada di sisi yang sama dengan Matahari dilihat dari Bumi sehingga tidak terlihat di langit malam.
Fase bulan baru menjadi waktu terbaik dalam sebulan untuk mengamati objek-objek redup seperti galaksi dan gugus bintang, karena tidak ada cahaya Bulan yang mengganggu pengamatan.
Hujan meteor Delta Aquarids
Puncak hujan meteor Delta Aquarids akan terjadi pada malam 28 Juli hingga dini hari 29 Juli. Delta Aquarids adalah hujan meteor dengan intensitas sedang, yang dapat menghasilkan hingga 20 meteor per jam pada puncaknya.
Hujan meteor ini disebabkan oleh partikel debu yang ditinggalkan oleh komet Marsden dan Kracht. Hujan meteor ini berlangsung setiap tahun dari 12 Juli hingga 23 Agustus.
Sayangnya, bulan purnama akan mengaburkan sebagian besar penampilan meteor ini. Meski demikian, pengamat yang bersabar masih berpeluang menyaksikan beberapa meteor yang lebih terang.
Meteor-meteor ini akan tampak berasal dari rasi bintang Aquarius, namun dapat muncul di mana saja di langit.
[Gambas:Video Chief Tablet]
Bulan purnama
Bulan purnama akan terjadi pada 29 Juli pukul 21.37 WIB. Pada fase ini, Bulan berada di sisi yang berlawanan dengan Matahari dilihat dari Bumi, sehingga permukaannya akan tampak sepenuhnya terang.
Bulan purnama ini dikenal oleh suku-suku asli Amerika pada masa lalu sebagai “Buck Moon”, karena pada masa inilah rusa jantan mulai menumbuhkan tanduk barunya. Bulan ini juga dikenal dengan sebutan “Thunder Moon” dan “Hay Moon”.
(lom)
Add
as a preferred
source on Google
[Gambas:Video Chief Tablet]
Baca lagi: Suhu Laut Dunia Tembus Rekor Terpanas, Alarm Bahaya Jelang El Nino
Baca lagi: Rupiah Loyo ke Rp17.855 per Dolar AS Selasa Pagi
Baca lagi: FOTO: Ogura Juara MotoGP Belanda, Martin Kudeta Bezzecchi di Klasemen

