
Jakarta, Chief Tablet Indonesia
—
Awan Cumulonimbus (Cb)
sering dikaitkan dengan
hujan
intensitas lebat disertai kilatan petir dan angin kencang. Simak penjelasan mengenai jenis awan ini.
Awan Cumulonimbus adalah awan yang tumbuh menjulang sangat tinggi secara vertikal dan terlihat sangat tebal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Cumulonimbus merupakan sistem awan konvektif yang paling sering menghasilkan hujan lebat, petir, angin kencang, bahkan hujan es.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut awan Cumulonimbus dapat dikenali berdasarkan sejumlah ciri-ciri sebagai berikut.
Tebal dan padat
Menjulang tinggi secara vertikal
Berwarna gelap saat mengandung air
Memiliki bentuk seperti payung raksasa
Berpotensi menghasilkan cuaca buruk
Dalam unggahan di Instagramnya pada Rabu (19/8), BMKG menyebut awan Cumulonimbus mulai tumbuh dari naiknya udara hangat dan lembap (updraft), lalu mengembun membentuk awan. Pada tahap pertumbuhan, awan akan disebut semakin cepat meninggi.
[Gambas:Instagram]
Setelah masuk tahap matang, awan Cumulonimbus akan terlihat seperti payung atau brokoli dan menghasilkan hujan yang sangat lebat mendadak disertai badai.
Awan ini dapat secara signifikan mengubah cuaca, serta kualitas udara daerah yang dilewatinya.
Di dunia penerbangan, Cumulonimbus terkenal sebagai awan yang berbahaya dan patut dihindari demi keselamatan penumpang dan kru pesawat.
Awan ini mampu menyebabkan turbulensi karena gerakan naik-turun udara yang kuat, dan hujan lebat yang menutupi jarak pandang.
Selain itu, ada juga potensi petir yang berbahaya bagi kelistrikan, angin kencang yang membuat pesawat tidak stabil, serta berisiko menghasilkan hujan es atau pembekuan yang akan merusak mesin hingga beberapa bagian pesawat.
(fta/lom)
Baca lagi: Hanura Ganti Logo Partai Jadi Singa Hadapi Pemilu 2029
Baca lagi: Kala Mobil Presiden Terdahulu Mejeng di Istana saat HUT ke-81 RI
Baca lagi: Ruben Onsu Tempuh Jalur Damai, Siap Kembalikan Dana



