AI Makin Canggih, tapi 4 Skill Manusia Ini Tak akan Bisa Ditiru Robot

Daftar Isi

4 skill manusia yang tak bisa dimiliki AI

Kecerdasan emosional

Mendengar dan memahami makna

Keberanian mengambil keputusan di tengah ketidakpastian

Kreativitas manusia

Kenapa keahlian manusia sangat penting di era AI?

Jakarta, Chief Tablet Indonesia

Perkembangan

kecerdasan buatan

(AI) yang kian cepat membuat banyak orang khawatir bahwa mesin bakal segera menggantikan

pekerjaan

mereka. Namun demikian, ternyata ada keahlian atau skill manusia yang tak akan bisa dimiliki AI. Apa itu?

Marco Iansiti, profesor Harvard Business School, mengatakan bahwa mesin belum mampu menirukan seluruh keahlian yang dimiliki oleh manusia.

“Kami tidak menganggap AI sebagai sesuatu yang melampaui atau membandingi kecerdasan manusia. Kami memandang AI sekadar sebagai aktivitas komputer untuk menjalankan tugas atau proses sederhana yang dulunya dikerjakan oleh manusia,” kata Marco, melansir laman resmi Harvard Business School, Selasa (21/7).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya ada beberapa skill krusial yang tetap menjadi ciri khas manusia dan sulit dilakukan AI secara efektif. Mengembangkan kemampuan-kemampuan ini dapat membantu membangun ketahanan karier serta memperkuat nilai jual di lingkungan kerja berbasis AI.

Harvard Business School, dalam laman tersebut, menjelaskan bahwa keahlian manusia adalah kemampuan yang bertumpu pada sifat-sifat khas manusia yang belum dapat ditiru atau dijalankan dengan baik oleh AI maupun teknologi digital lainnya.

4 skill manusia yang tak bisa dimiliki AI

Walau AI mampu menyelesaikan berbagai tugas lebih cepat dan dalam skala yang lebih besar, teknologi ini sering kali kewalahan saat dihadapkan pada situasi yang membutuhkan pertimbangan, koneksi emosional, dan penafsiran khas manusia. Berikut adalah daftar skill manusia yang tak bisa digantikan oleh AI:

Kecerdasan emosional

Generatif AI memang dapat membuat teks, gambar, video, hingga suara yang terdengar sangat mirip manusia. Namun, AI tidak memiliki kecerdasan emosional (emotional intelligence), kemampuan untuk merasakan empati, membangun rasa percaya, dan menjalin hubungan yang tulus.

Manusia tetap jauh lebih unggul dalam peran-peran yang membutuhkan kemampuan untuk:

Membangun dan menjaga rasa percaya dari pelanggan, karyawan, serta pemangku kepentingan.

Mengelola dan menyelesaikan konflik antarindividu.

Memahami motivasi yang kompleks atau saling bertolak belakang di balik perilaku seseorang.

Meski kecerdasan emosional tidak dimiliki secara alami oleh semua orang, kemampuan ini dapat diasah secara sadar melalui kesadaran diri, empati, dan refleksi.

Mendengar dan memahami makna

Chatbot AI kemungkinan terlihat menyimak dan merespons dengan bijak, tapi mereka tidak benar-benar memahami makna. Model bahasa besar (LLM) yang menopang AI generatif menghasilkan jawaban berdasarkan pengenalan pola dan prediksi kata berikutnya, bukan dari pemahaman makna secara mendalam.

Keterbatasan ini terlihat jelas pada situasi yang bergantung pada nuansa, konteks, atau isyarat non-verbal, seperti keraguan, nada suara, dan gestur tubuh.

Pekerjaan di bidang-bidang seperti sales, customer services, dan sumber daya manusia, memahami hal-hal yang tidak terucap kerap kali sama pentingnya dengan mendengarkan kata-kata yang disampaikan.

Keberanian mengambil keputusan di tengah ketidakpastian

Teknologi AI bekerja maksimal ketika masalah memiliki batasan yang jelas serta jawaban pasti benar atau salah. Sebaliknya, AI akan kesulitan ketika data tidak lengkap atau tidak terstruktur. Kondisi ini membutuhkan pertimbangan manusia untuk mengisi kekosongan tersebut.

Contohnya, perusahaan bioteknologi Healx memanfaatkan platform AI mereka untuk memprediksi apakah obat yang sudah ada bisa digunakan untuk mengobati penyakit lain. Akan tetapi, para ahli di perusahaan tersebut tetap meninjau ulang hasil analisis AI untuk mengambil keputusan akhir.

Pada akhirnya, mengambil keputusan yang tepat di tengah ketidakpastian membutuhkan pemikiran kritis, kemampuan menimbang risiko dan konsekuensi, serta penerapan konteks ketika data saja tidak cukup untuk mengambil kesimpulan

Kreativitas manusia

AI boleh saja sanggup menghasilkan karya kreatif dengan kecepatan dan skala yang luar biasa. Namun, hasil ini murni berbasis pengenalan dan kombinasi ulang dari pola yang sudah ada, bukan gagasan yang benar-benar baru.

Kreativitas manusia melibatkan imajinasi, intuisi, serta keberanian untuk mempertanyakan asumsi dasar. Di dunia kerja, kreativitas inilah yang mendorong inovasi, adaptabilitas, dan pertumbuhan di berbagai industri maupun peran.

Kreativitas tidak terbatas pada seni atau penceritaan semata. Anda dapat mengasah kemampuan pemecahan masalah secara kreatif, seperti:

Berempati terhadap pemangku kepentingan

Merumuskan ulang masalah menjadi pertanyaan untuk membuka jalan bagi solusi baru

Mempertanyakan asumsi bawaan serta proses kerja yang sudah ada

Menyeimbangkan pola pikir eksploratif dengan pola pikir fokus.

Kenapa keahlian manusia sangat penting di era AI?

AI boleh jadi sangat unggul dalam mengenali pola dan bekerja paling optimal pada masalah yang memiliki seperangkat aturan jelas serta dukungan data berukuran besar. Namun, keahlian manusia menjadi jauh lebih krusial dalam skenario yang melibatkan:

Keterbatasan data untuk pelatihan

Interaksi langsung tatap muka

Komunikasi non-verbal

Pengambilan keputusan yang penuh nuansa dan pertimbangan mendalam

Konsep jagged frontier atau batas kemampuan AI yang tidak merata, membantu menjelaskan celah ini. Kerangka kerja tersebut menunjukkan bahwa AI bisa sangat unggul melebihi manusia dalam tugas-tugas tertentu, tapi di saat yang sama justru berkinerja buruk pada tugas lain yang sekilas terlihat mirip.

“Ada tugas-tugas lain yang berada di luar batas tersebut. Walau di permukaan tampak serupa, AI akan kesulitan menyelesaikannya. Sayangnya, kegagalan AI tidak selalu disadari oleh penggunanya,” kata Karim Lakhani, profesor Harvard Business School.

Menurut dia, AI akan bekerja paling efektif jika dipadukan dengan pengawasan manusia. Oleh karena itu, memahami kapan harus memakai AI dan kapan harus menahannya kini menjadi kemampuan kepemimpinan yang sangat krusial.

(dmi)

Add

as a preferred

source on Google

[Gambas:Video Chief Tablet]

Baca lagi: Travis Scott Terlibat Perkelahian Saling Lempar Botol di Klub Malam

Baca lagi: 4 Bulan Kekeringan Parah, Warga Tangerang Berebut Bantuan Air Bersih

Baca lagi: Komdigi Tetapkan Telkomsel, XLSmart, Indosat Pemenang Lelang Frekuensi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: