
Bandung, Chief Tablet Indonesia
—
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (
PVMBG
) mengungkap enam
gunung berapi
Indonesia mengalami erupsi akhir Agustus lalu. Namun begitu, rentetan erupsi ini tidak mempengaruhi aktivitas vulkanik di seluruh Indonesia.
Enam gunung api yang erupsi yakni Gunung Ibu di Maluku Utara, Gunung Lewotobi Laki-laki dan Gunung Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur, Gunung Semeru di Jawa Timur, Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, serta Gunung Sinabung di Sumatera Utara.
Badan Geologi dan PVMBG memastikan, enam gunung yang erupsi tersebut tidak mempengaruhi aktivitas vulkanik di seluruh Indonesia meningkat secara serentak atau berhubungan satu sama lain dalam prosesnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Aktivitas tektonik memang bisa memengaruhi sistem vulkanik jika gunung berada dalam kondisi kritis, namun hingga saat ini belum ditemukan bukti adanya satu aktivitas tektonik regional yang memicu keenam erupsi tersebut sekaligus,” ujar Kepala PVMBG Badan Geologi Rita Susilawati, Rabu (2/9).
Rita menuturkan Indonesia memiliki 127 gunung api aktif dengan karakter, dinamika, dan sistem magmatik yang berbeda-beda. Beberapa gunung seperti Semeru, Ibu, Ili Lewotolok, dan Lewotobi Laki-laki memang memiliki riwayat erupsi berulang, sehingga secara statistik erupsi pada hari yang sama sangat mungkin terjadi.
Mekanisme erupsi gunung api sendiri bervariasi, mulai dari freatik atau hidrovulkanik akibat interaksi magma dengan air tanah, magmatik yang mengalirkan magma tanpa sumbatan, hingga freatomagmatik dengan tekanan tinggi dan muntahan material masif.
Dalam melakukan pemantauan, PVMBG mengukur parameter kegempaan, deformasi tubuh gunung, komposisi gas, kondisi termal, visual, hingga pendukung lainnya.
“Penetapan status suatu gunung api murni didasarkan pada kondisi internal gunung itu sendiri, bukan dipengaruhi oleh erupsi gunung lain,” kata dia.
Terkait kondisi khusus Gunung Sinabung, terjadi peningkatan aktivitas yang terukur dari status Level II Waspada sejak 17 Mei 2023 menjadi Level III Siaga mulai 31 Agustus 2026 pukul 12.30 WIB. Peningkatan status ini dipicu oleh perekaman 85 gempa vulkanik, satu hembusan, dan satu tremor harmonik, sebelum akhirnya erupsi pada 31 Agustus 2026 pukul 10.17 WIB dengan tinggi kolom abu mencapai 3.500 meter ke arah timur-tenggara.
Status Siaga ini mengharuskan masyarakat untuk tidak beraktivitas di desa-desa yang telah direlokasi, menjaga jarak radius 3 km dari puncak, radius sektoral 6 km ke arah selatan-timur, serta mewaspadai potensi lahar di aliran sungai saat hujan turun.
Sementara itu, Gunung Anak Krakatau berada pada status Level III Siaga sejak 2 Juli 2026. Pada 31 Agustus 2026, terjadi erupsi dengan kolom abu sekitar 200 meter di atas puncak berdasarkan evaluasi kegempaan dangkal, emisi gas SO2, anomali panas satelit, dan titik api kawah.
Erupsi pada Anak Krakatau tidak otomatis memicu terjadinya tsunami. Masyarakat pesisir Banten dan Lampung diimbau tetap tenang, tidak memasuki radius 3 km dari pusat aktivitas, dan selalu mengikuti arahan resmi.
PVMBG terus memantau aktivitas secara berkelanjutan dan akan memperbarui evaluasi maupun status jika terjadi perubahan signifikan.
“Prinsip utama yang ditekankan adalah masyarakat harus tetap tenang namun jangan lengah dengan mengenali bahaya, bersiaga dalam tindakan, demi keselamatan jiwa,” kata dia.
(csr/dmi)
Baca lagi: FOTO: Pasien-pasien ISPA Terdampak Karhutla di Sumatra
Baca lagi: Lawan Brand China, Honda-Nissan Sepakat Kembangkan Perangkat Lunak
Baca lagi: 4 Orang Tewas Imbas Bombardir AS ke Sirik Iran, Kena Pesta Pernikahan



