
Jakarta, Chief Tablet Indonesia
—
Riset dari University College London (UCL) dan Loughborough University menyebut
aplikasi
pelacak kebugaran dan kalori dapat memicu perasaan “malu” pada penggunanya ketika gagal mencapai target yang ditetapkan.
Para peneliti menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk menganalisis puluhan ribu unggahan media sosial di platform X.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Studi tersebut mengidentifikasi 58.881 unggahan yang membahas lima aplikasi kebugaran paling menguntungkan secara komersial. Lima aplikasi dalam studi ini adalah MyFitnessPal, Strava, WW, Workouts by Muscle Booster, Fitness Coach & Diet dan, FitCoach
Dari jumlah itu, unggahan kemudian disaring untuk melihat mana yang mengandung “sentimen negatif”. Hasilnya, sebanyak 13.799 unggahan menunjukkan pengalaman negatif pengguna terhadap aplikasi tersebut.
Peneliti menemukan bahwa pengguna merasa “malu” ketika mencatat konsumsi makanan tidak sehat, “kesal” akibat notifikasi yang dikirim aplikasi, serta kecewa saat tidak mampu memenuhi target yang ditetapkan.
Studi ini juga menyoroti kekhawatiran terkait target yang dihasilkan algoritme berdasarkan tujuan penurunan berat badan pengguna.
“Aplikasi-aplikasi ini mengandalkan algoritme yang tidak mencerminkan fleksibilitas dan kompleksitas kehidupan nyata, atau mempertimbangkan keadaan dan perbedaan individu,” tulis para peneliti dalam studi yang dirilis di
British Journal of Health Psychology
pada Oktober 2025 tersebut.
Peneliti mencontohkan salah satu unggahan pengguna yang menuliskan bahwa untuk mencapai berat badan target, ia perlu mengonsumsi kalori negatif 700 per hari, sebuah target yang secara matematis maupun fisiologis tidak masuk akal.
Dalam beberapa kasus, pengalaman semacam itu berujung pada “demotivasi”, dengan pengguna tampak menyerah pada tujuan kebugaran mereka.
Atas temuan ini, peneliti mendorong aplikasi kebugaran untuk beralih dari pendekatan penghitungan kalori dan regimen olahraga yang “kaku” menuju pendekatan yang lebih holistik.
“Masih sedikit studi yang melihat potensi dampak buruk dari aplikasi-aplikasi ini,” kata Paulina Bondaronek dari UCL Institute of Health Informatics sekaligus penulis senior studi tersebut, dikutip dari
The Independent
.
“Media sosial menyediakan data dalam jumlah besar yang bisa membantu kita memahami dampak ini. Dengan menggunakan AI, kami mampu menganalisis data tersebut lebih cepat,” tambahnya.
Ia menambahkan bahwa dari unggahan-unggahan yang dianalisis, timnya menemukan banyak nada menyalahkan diri sendiri dan rasa malu, dengan pengguna merasa tidak melakukan upaya yang cukup baik.
Menurutnya, efek emosional semacam itu berpotensi merusak motivasi dan kesehatan pengguna.
“Alih-alih ukuran keberhasilan yang sempit dan kaku terkait jumlah berat badan yang hilang, aplikasi kesehatan seharusnya memprioritaskan kesejahteraan secara menyeluruh dan berfokus pada motivasi intrinsik, contohnya kenikmatan atau kepuasan yang muncul dari aktivitas itu sendiri,” tutur Bondaronek.
Ia juga menekankan pentingnya bersikap lebih baik terhadap diri sendiri.
“Kita cenderung pandai menyalahkan dan mempermalukan diri karena mengira itu akan membantu kita menjadi lebih baik, padahal justru berdampak sebaliknya,” katanya.
Lebih lanjut, Bondaronek mengingatkan bahwa studi ini hanya menganalisis unggahan bersentimen negatif, sehingga tidak dapat menggambarkan efek keseluruhan dari aplikasi kebugaran terhadap kesejahteraan pengguna.
“Aplikasi-aplikasi ini mungkin memiliki sisi negatif, tetapi kemungkinan besar juga memberikan manfaat bagi banyak orang,” ujarnya.
Sementara itu, salah satu penulis studi lainnya, Lucy Porter dari UCL Division of Psychology and Language Sciences, menyebut temuan ini menunjukkan bahwa aplikasi kebugaran terkadang justru membuat pengguna merasa putus asa dan siap menyerah. Hal ini bertolak belakang dengan tujuan awal alat tersebut diciptakan.
“Kami tahu dari riset sebelumnya bahwa perasaan malu dan sengsara terhadap diri sendiri tidak mendukung perubahan perilaku jangka panjang yang sehat. Yang perlu kita ketahui sekarang adalah seberapa luas dampak ini terhadap moral dan kesejahteraan emosional pengguna, serta apakah ada cara untuk mengadaptasi aplikasi kebugaran agar lebih sesuai dengan kebutuhan penggunanya,” kata Porter.
(lom)
Add
as a preferred
source on Google
[Gambas:Video Chief Tablet]
Baca lagi: Momen Dubes RI untuk Iran Hadiri Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei
Baca lagi: Mulai Hari Ini Registrasi Nomor HP Baru Wajib Verifikasi Wajah
Baca lagi: The All-New Lexus ES Bersiap Bawa Evolusi Sedan Mewah Ke Tanah Air