
Jakarta, Chief Tablet Indonesia
—
Presiden
Prabowo Subianto
menyoroti bahwa Indonesia perlu melakukan terobosan teknologi terkait mitigasi bencana, mengingat negara ini berada di kawasan
Ring of Fire
atau Cincin Api Pasifik yang rentan diguncang gempa besar hingga bencana alam lain.
Menurut Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (
BRIN
) Arif Satria, hal tersebut disampaikan Prabowo saat menerima sejumlah penerima Nobel di Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (28/8).
“Presiden tadi juga menyampaikan bahwa Indonesia itu merupakan daerah yang
Ring of Fire
, banyak sekali titik-titik kerentanan terhadap bencana, sehingga beliau tadi menyampaikan bahwa ini memerlukan kajian, memerlukan inovasi-inovasi teknologi untuk bisa mengatasi, mengantisipasi, maupun terus memberikan solusi sehingga hal-hal tersebut tidak terjadi di Indonesia,” kata Arif di Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (28/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Arif menyampaikan bahwa pihaknya sempat menyinggung sejumlah inovasi BRIN ketika gempa dahsyat mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) beberapa waktu lalu. Salah satu yang paling disorot adalah rumah modular tahan gempa.
Sebelumnya, tiga rumah yang dikembangkan BRIN tidak ambruk meski diguncang gempa berkekuatan M7,7 di NTT. Tiga rumah ini merupakan bagian dari pengembangan teknologi konstruksi tahan gempa pada 2021-2022.
Menurut Arif, saat ini pihaknya terus berkoordinasi dan mencari mitra yang tepat untuk bisa memproduksi massal rumah tahan gempa tersebut. Pasalnya, BRIN tidak bisa memproduksi massal rumah tahan gempa tersebut.
“Karena BRIN tidak boleh memproduksi secara massal dan sehingga kita harus mencari mitra-mitra untuk menghasilkan rumah-rumah tersebut dalam jumlah yang lebih banyak dan bisa lebih murah lagi karena itu rumah tahan gempa ini saya kira sangat penting untuk daerah-daerah yang memang rentan terhadap gempa,” ujarnya.
“Jadi, ya arahan Bapak Presiden jelas bahwa BRIN diminta untuk mencari opsi-opsi teknologi yang bisa mengatasi gempa ini, mengatasi bencana
ini,” lanjutnya.
Selain itu, Arif juga menyebut bahwa Prabowo meminta BRIN menyiapkan inovasi teknologi untuk mengatasi masalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sejauh ini, Indonesia rutin melakukan modifikasi cuaca untuk mengatasi masalah kekeringan hingga karhutla.
Menurut Arif, pihaknya juga sudah mengirimkan sebanyak 50 orang periset yang dapat meningkatkan efektivitas teknologi modifikasi cuaca ini ke Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
“Ketika BMKG berdiri divisi untuk teknologi modifikasi cuaca itu dikembangkan, maka sekitar 50 peneliti dari BRIN berpindah ke BMKG untuk memperkuat teknologi modifikasi cuaca. Nah sehingga teman-teman yang ada di BMKG terus mencermati kemudian mengembangkan untuk aplikasinya, tapi dari sisi riset materialnya dan teknologinya ya tugas kami di BRIN untuk melakukan riset,” lanjut dia.
(del/dmi)
Baca lagi: OJK Catat Transaksi Kripto RI Tembus Rp20,52 T per Juli 2026
Baca lagi: Inovasi Pembiayaan SMF Sukses Perluas Akses Hunian dan Dorong Ekonomi
Baca lagi: Formula 1: Max Verstappen Teken Kontrak Baru di Red Bull