Chief Tablet

Era Internet 6G di Depan Mata, Bagaimana Kesiapan Indonesia?

Jakarta, Chief Tablet Indonesia

Teknologi jaringan telekomunikasi

6G

bakal siap digunakan secara global di sejumlah negara. Lantas, apakah

Indonesia

siap mengadopsi teknologi ini?

Ketua Umum Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Sarwoto Atmosutarno mengatakan bahwa pemanfaatan pita frekuensi 6GHz dan kesiapan menuju 6G perlu dilakukan jauh sebelum teknologi tersebut hadir secara komersial.

“Kita kan suka

lelet

tuh. Makanya kita mesti

kerjain

sekarang gitu. Karena kalau kita tidak terencana dengan baik, tahu-tahu diadakan oleh international environment yang mereka sudah siap,” kata Sarwoto, melansir

CNBC

, Kamis (9/7).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia kemudian mencontohkan bagaimana lambatnya pemanfaatan teknologi jaringan 5G di Indonesia. Menurutnya 5G sudah masuk laboratorium sejak 2012 dan pertama kali diimplementasikan sekitar 2017 di dunia.

Sementara, Indonesia pertama kali meluncurkan jaringan 5G pada 2021 oleh Telkomsel. Penetrasi 5G di negara lain juga sudah mencapai di atas 70 persen, sedangkan Indonesia belum sampai 10 persen.

Namun begitu, menurutnya tidak masalah jika Indonesia langsung lompat ke 6G, asalkan bergantung pada pemanfaatan kegiatan ekonomi dan non-ekonomi yang bisa didapatkan.

“Kan tergantung dari Anda kan sebagai pengguna. Kalau misalkan saya lebih senang 6G untuk pemanfaatan kegiatan keekonomian maupun non-ekonomi Anda, market akan menjawab tuh,” ujar dia.

Perlu tambahan frekuensi

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menilai perlunya penambahan spektrum frekuensi baru untuk mendukung pengembangan teknologi jaringan seluler 6G.

Direktur Penataan Spektrum Frekuensi Radio, Orbit Satelit, dan Standardisasi Infrastruktur Digital Komdigi Adis Alifiawanmengatakan, kapasitas spektrum seluler nasional setelah proses lelang pita frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz diperkirakan mencapai sekitar 712 MHz.

Kebutuhan spektrum untuk implementasi jaringan 6G pada masa mendatang diperkirakan akan jauh lebih besar sehingga diperlukan upaya penyiapan pita frekuensi tambahan. Spektrum frekuensi yang tersedia saat ini dinilai belum cukup untuk digunakan mengembangkan jaringan 6G.

“Artinya kita harus mengeluarkan frekuensi baru. Kalau pakai frekuensi

existing

, tidak cukup, tidak

proper

,” kata Adis, melansir

Antara

.

setiap operator diperkirakan membutuhkan sekitar 200 MHz spektrum frekuensi untuk dapat mengoperasikan layanan 6G secara optimal. Sementara itu, pita frekuensi terbesar yang saat ini tersedia melalui proses lelang hanya menyediakan sekitar 190 MHz.

Adis menambahkan pita frekuensi kategori mid-band dinilai menjadi salah satu pilihan yang menjanjikan karena mampu memberikan keseimbangan antara kapasitas jaringan dan cakupan layanan.

Meski demikian, Komdigi hingga kini masih mengkaji berbagai alternatif pemanfaatan spektrum, termasuk pita kategori

upper

(tinggi) 6 GHz yang menjadi salah satu kandidat spektrum untuk layanan 6G dalam pembahasan internasional menjelang World Radio communication Conference (WRC) 2027.

(dmi)

Add

as a preferred

source on Google

[Gambas:Video Chief Tablet]

Baca lagi: Pabrik Sepatu di China Terbakar, Sejumlah Orang Terjebak di Atap

Baca lagi: Waspada Modus Sebar Link Penipuan Pemutihan Pajak Kendaraan

Baca lagi: Sahabat Ungkap Ruben Onsu Tak Pernah Curhat soal Masalahnya

Exit mobile version