
Daftar Isi
Apa itu Ring of Fire?
Lempeng pasifik
Apakah Ring of Fire sedang aktif?
Apa dampaknya buat Indonesia?
Jakarta, Chief Tablet Indonesia
—
Presiden Prabowo Subianto menyebut erupsi lima gunung api dalam waktu berdekatan merupakan konsekuensi yang tak bisa dihindarkan oleh Indonesia. Menurut Prabowo, rentetan
bencana alam
ini disebabkan Indonesia berada di area lingkaran gunung api atau
Ring of Fire
.
Saat ini Indonesia sedang dilanda bencana alam masif mulai dari gempa berkekuatan magnitudo 7,7 di Flores Nusa Tenggara Timur (NTT) hingga erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.
“Ini adalah takdir kita, negara yang berada di lingkaran api, the Ring of Fire ya jadi ini membawa kita untuk, kita harus siap menghadapi keadaan seperti ini, setiap saat,” kata Prabowo dalam rapat terbatas (Ratas) terkait perkembangan penanganan bencana alam secara daring, pada Senin (7/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Berarti mungkin ini pembelajaran juga bagi kita pemerintah yang saya pimpin alokasi anggaran untuk mitigasi bencana harus kita tambah secara signifikan,” imbuhnya.
Apa itu Ring of Fire?
Menurut Badan Oseanik dan Atmosfer Nasional AS (NOAA), Ring of Fire adalah hasil dari lempeng tektonik. Sebagian besar aktivitas vulkanik terjadi di sepanjang zona subduksi, yang merupakan batas lempeng konvergen tempat dua lempeng tektonik bertemu.
Pelat yang lebih berat didorong (atau ditundukkan) di bawah pelat lainnya. Saat ini terjadi, pencairan lempeng menghasilkan magma yang naik melalui lempeng di atasnya, meletus ke permukaan sebagai gunung berapi.
Zona subduksi juga merupakan tempat palung laut terdalam Bumi berada dan tempat terjadinya gempa yang dalam. Palung terbentuk karena saat satu lempeng menujam di bawah yang lain, ia membengkok ke bawah. Gempa bumi terjadi saat dua lempeng bergesekan satu sama lain dan saat lempeng subduksi membengkok.
Lempeng pasifik
Dikutip dari Badan Survey Geologi Amerika Serikat (USGS), sebagian besar gempa bumi dan letusan gunung berapi tidak terjadi secara acak. Itu terjadi di wilayah tertentu, seperti di sepanjang batas lempeng tektonik.
Salah satu area tersebut adalah Ring of Fire atau Cincin Api sirkum-Pasifik, tempat Lempeng Pasifik bertemu dengan banyak lempeng tektonik di sekitarnya. Hal ini menjadikan Ring of Fire sebagai tempat dengan aktivitas kegempaan dan vulkanik yang tinggi.
Ring of Fire terdiri dari lebih 450 gunung berapi dan membentang hampir 40.250 kilometer dalam bentuk tapal kuda. Cincin ini membentang dari ujung selatan Amerika Selatan, di sepanjang pantai barat Amerika Utara, melintasi Selat Bering, turun melalui Jepang, dan masuk ke Selandia Baru.
Apakah Ring of Fire sedang aktif?
Menurut anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono mengatakan bahwa rentetan gempa di kawasan Pasifik itu bukan berarti ada peningkatan aktivitas kegempaan di kawasan Cincin Api.
Merujuk data USGS pada total seluruh gempa yang terjadi, termasuk yang sangat kecil dan tidak bisa dirasakan manusia tetapi tercatat oleh instrumen, ada sekitar 500.000 gempa terdeteksi di Bumi setiap tahunnya.
Karena Cincin Api Pasifik menyumbang sekitar 90 persen dari total seluruh gempa di bumi, berarti di wilayah ini saja terjadi sekitar 450.000 gempa per tahun. Jika dirata-rata, berarti ada sekitar 1.200 gempa yang terjadi di seputar Cincin Api Pasifik setiap harinya.
“Persepsi bahwa Cincin Api sedang lebih aktif biasanya dipicu oleh efek klasterisasi waktu, yaitu kondisi ketika beberapa gempa signifikan kebetulan terjadi dalam waktu yang berdekatan, serta kecepatan penyebaran informasi di media sosial yang membuat gempa di wilayah terpencil kini bisa langsung diketahui publik dalam hitungan menit,” jelas Daryono saat dihubungi Chief TabletIndonesia.com, beberapa waktu lalu.
Secara global, aktivitas gempa tahun ini masih berada dalam batas fluktuasi statistik yang normal dan tidak berada di atas rata-rata historis jangka panjang. Secara rata-rata global, gempa dengan kekuatan magnitudo 7,0 ke atas terjadi sekitar 15 kali per tahun, dan magnitudo 6,0 ke atas terjadi sekitar 130 hingga 140 kali per tahun.
Menurut Daryono, fluktuasi naik-turun jumlah gempa dalam skala bulanan atau tahunan adalah siklus alamiah bumi yang sepenuhnya normal dalam proses pelepasan ketegangan batuan, dan bukan indikasi bahwa bumi menjadi lebih tidak stabil belakangan ini.
Apa dampaknya buat Indonesia?
Indonesia yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik rentan dengan peristiwa gempa besar. Namun begitu, rentetan gempa yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir ini tidak akan memberi dampak signifikan buat Indonesia.
“Karena Cincin Api Pasifik tidak mengalami anomali peningkatan aktivitas, maka tidak ada dampak luar biasa yang perlu dikhawatirkan di luar potensi kebencanaan rutin yang memang sudah menjadi karakteristik geografis kita,” ujar Daryono.
Menurut dia, Indonesia secara alami berada di titik pertemuan tiga lempeng tektonik aktif, yaitu Lempeng Pasifik, Indo-Australia, dan Eurasia. Daryono memastikan gempa yang terjadi di Venezuela, Jepang, atau California tidak akan memicu gempa di Indonesia karena jaraknya yang sangat jauh dan sistem lempengnya yg bekerja secara mandiri.
“Dampak nyata yang harus terus diwaspadai adalah aktivitas pelepasan energi zona gempa regional dan lokal di wilayah Indonesia sendiri yang terjadi secara terus-menerus,” jelasnya.
(dmi)
Baca lagi: Purbaya Jamin Kondisi Himbara Tak Terganggu karena Pinjaman Kopdes
Baca lagi: Crazyrich88 Pusat Game Online Paling Terpercaya
Baca lagi: XLSmart Buka-bukaan Soal Isu Kuota Internet Hangus, Tak Semua Rollover