Desain Bikin Candu, Facebook dan Instagram Terancam Denda Rp217 T

Jakarta, Chief Tablet Indonesia

Komisi Uni Eropa mengungkap desain

Facebook

dan

Instagram

, platform media sosial di bawah

Meta

, membuat kecanduan untuk para penggunanya. Kedua perusahaan diminta mengubah desainnya atau bakal menerima sanksi dari Eropa.

Menurut komisi, fitur-fitur seperti

autoplay

,

infinite scroll

, rekomendasi yang dipersonalisasi, serta

push notification

berpotensi mengganggu mental pengguna. Berdasarkan hasil investigasi, Meta dinilai gagal mengatasi atau memperingatkan pengguna mengenai risiko-risiko tersebut secara memadai, sehingga berpotensi melanggar Undang-Undang Layanan Digital (DSA) Uni Eropa.

Melansir

Chief Tablet

, temuan ini menyusul keputusan dua juri pengadilan di Amerika Serikat, yang menyatakan bahwa Meta secara sengaja membuat pengguna muda kecanduan dan membahayakan mereka. Sejumlah negara, seperti Indonesia hingga beberapa negara Uni Eropa, juga mulai bergerak untuk membatasi remaja mengakses media sosial.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Juru bicara Meta Ben Walters menyatakan, pihaknya tidak setuju dengan temuan tersebut. Menurutnya laporan itu tidak secara akurat mempertimbangkan langkah-langkah signifikan yang sudah mereka lakukan untuk melindungi remaja.

“Sejak investigasi ini dimulai, kami telah meluncurkan fitur Akun Remaja yang secara otomatis melindungi remaja dan memberikan kendali kepada orang tua, memungkinkan mereka memblokir akses ke Instagram pada malam hari dan membatasi screen time harian hanya 15 menit,” kata pernyataan tersebut.

“Kami memiliki komitmen yang sama dengan Komisi Eropa untuk menyediakan pengalaman daring yang aman dan positif bagi remaja, dan kami akan terus berdialog secara konstruktif dengan mereka,” lanjut dia.

Temuan Komisi Eropa ini masih tahap awal, dan Meta berkesempatan untuk menyanggahnya. Namun, jika terbukti melanggar regulasi tersebut, Meta terancam denda hingga 6 persen dari pendapatan globalnya, yang bisa mencapai lebih dari US$12 miliar (sekitar Rp217 triliun), berdasarkan pendapatan tahun lalu.

Laporan komisi ini menyatakan bahwa Meta mengabaikan risiko dari fitur

autoplay

,

infinite scroll

, dan rekomendasi yang dipersonalisasi. Fitur-fitur ini dianggap ‘mendorong keinginan pengguna untuk terus menggulir layar dan mengondisikan otak ke dalam mode autopilot, yang memicu kebiasaan tidak sehat dan penggunaan kompulsif.

Selain itu, laporan ini juga menyebut bahwa Meta mengabaikan data mengenai seberapa banyak waktu yang dihabiskan remaja di aplikasi mereka pada malam hari.

Komisi Eropa menilai upaya Meta untuk menekan risiko tersebut belum efektif. Pengingat batas waktu penggunaan dinilai terlalu mudah diabaikan begitu saja.

Fitur pengawasan orang tua juga dianggap menuntut keahlian teknis dan waktu luang dari orang tua untuk memahaminya, sehingga dinilai kurang efektif.

Fitur tak berfungsi optimal

Sebuah laporan riset dari New York University dan Northeastern University yang mengevaluasi efektivitas fitur keselamatan remaja di media sosial menemukan bahwa 66 persen fitur di Instagram tidak berfungsi dengan baik atau sulit ditemukan.

Laporan ini juga menyoroti bahwa remaja sangat mudah mengabaikan pengingat batas waktu di Instagram.

Merespons temuan ini, Meta berdalih bahwa fitur tersebut sudah berfungsi sebagaimana mestinya, yakni dirancang sebagai pengingat, tapi keputusan akhir untuk menggunakan aplikasi tetap di tangan remaja, meski orang tua tetap dapat menetapkan batasan waktu yang ketat.

Meta meluncurkan pengaturan keselamatan Akun Remaja pertama kalinya pada 2024, setelah bertahun-tahun menerima kritik dari orang tua dan pembuat kebijakan terkait dampak aplikasi tersebut terhadap kesehatan mental remaja.

Pengaturan ini menyediakan perlindungan privasi bawaan, pembatasan waktu, dan pembatasan konten bagi pengguna di bawah usia 18 tahun, dengan asumsi mereka mendaftar menggunakan tanggal lahir yang akurat.

Komisi Eropa menegaskan bahwa Meta sebaiknya menonaktifkan fitur-fitur utama yang memicu kecanduan seperti

autoplay

dan

infinite scroll

. Langkah ini tentu akan menjadi perubahan besar pada cara platform beroperasi.

Komisi juga meminta Meta menyesuaikan sistem rekomendasinya agar tidak terlalu berorientasi pada peningkatan interaksi (

engagement-oriented

).

(dmi)

Add

as a preferred

source on Google

[Gambas:Video Chief Tablet]

Baca lagi: Hasil Lelang Frekuensi: XLSmart Unggul di 700 MHz, Telkomsel 2,6 GHz

Baca lagi: Rupiah Merangkak ke Level Rp18.076 per Dolar AS Jelang Akhir Pekan

Baca lagi: Bridgestone Gelar BFA Gathering 2024, Perkuat Kualitas Layanan Fleet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: