
Daftar Isi
Jakarta, Chief Tablet Indonesia
—
Ilmuwan dari Australian National University (ANU) mengungkap metode baru untuk membantu orang mengenali wajah buatan
kecerdasan buatan (AI)
, tanpa mengandalkan perangkat lunak pendeteksi AI.
Dalam studi yang diterbitkan di Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS), para peneliti melatih peserta untuk mengenali wajah buatan AI dengan memperhatikan kesan visual secara menyeluruh.
Metode tersebut diklaim mampu meningkatkan akurasi peserta hingga hampir dua kali lipat. Sejumlah peserta dengan performa terbaik bahkan mencapai tingkat akurasi yang disebut mendekati sempurna.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penelitian ini muncul di tengah meningkatnya penggunaan deepfake dan gambar buatan AI yang semakin sulit dibedakan dari foto manusia asli.
Dilansir
Gizmodo
, volume deepfake online meningkat tajam dari 2023 hingga 2025, dengan pertumbuhan sekitar 900 persen per tahun seiring kemampuan generator gambar AI yang semakin baik.
Sejumlah studi sebelumnya menemukan kemampuan manusia dalam membedakan konten AI dan konten asli masih nyaris setara dengan menebak secara acak.
Kesulitan itu semakin besar ketika pengguna harus membedakan wajah manusia asli dengan wajah buatan AI.
Selama ini, salah satu cara umum mendeteksi gambar buatan AI adalah mencari kesalahan visual seperti latar belakang yang berubah bentuk, anatomi tubuh yang tidak wajar, atau jumlah jari yang salah.
Namun, petunjuk semacam itu semakin tidak bisa diandalkan karena generator gambar AI terus berkembang.
Perangkat pendeteksi AI komersial juga dinilai belum sempurna karena masih dapat menghasilkan false positive.
Sebagian alat tersebut juga menggunakan AI, sehingga alasan di balik kesimpulannya tidak selalu dapat diketahui pengguna.
“Kurangnya jawaban berbasis AI untuk masalah deepfake, kita sangat perlu meningkatkan kemampuan manusia dalam mendeteksi AI,” tulis peneliti dari Emotions and Faces Lab ANU dalam studi tersebut.
Para peneliti kemudian mencoba pendekatan berbeda dengan mengalihkan perhatian dari detail kecil menuju apa yang mereka sebut sebagai global impressions atau kesan keseluruhan.
Ada enam karakteristik yang menjadi fokus, yakni simetri, proporsionalitas, daya tarik, ekspresivitas, keunikan, dan kemudahan wajah untuk diingat.
Wajah AI cenderung terlalu ‘sempurna’
Generator AI disebut tak menciptakan wajah dari nol.
Model tersebut dilatih menggunakan kumpulan data sangat besar dan menghasilkan wajah berdasarkan pola dari banyak wajah yang dipelajari.
Menurut studi, ketika menghasilkan wajah manusia, AI bergantung pada semacam rata-rata matematis dari puluhan ribu wajah dalam data pelatihannya.
Akibatnya, wajah buatan AI cenderung terlihat lebih “tipikal” dibandingkan wajah manusia asli.
Peneliti menemukan orang sebenarnya memiliki sensitivitas intuitif terhadap perbedaan tersebut, meski belum tentu bisa langsung menggunakannya untuk mendeteksi deepfake dengan akurat.
“Orang secara otomatis mendeteksi perbedaan ini, menilai wajah AI lebih simetris, proporsional, dan menarik dibandingkan wajah manusia, tetapi kurang khas, kurang mudah diingat, dan kurang ekspresif,” tulis para peneliti.
Dengan kata lain, wajah buatan AI dalam penelitian cenderung tampak lebih simetris dan proporsional, sementara wajah manusia asli dinilai lebih ekspresif, khas, dan mudah diingat.
(lom)
Baca lagi: BMKG Pantau Ketat 3 Zona Megathrust RI, Bisa Hasilkan Gempa Dahsyat
Baca lagi: TNI Respons Prajurit BAIS Teror Air Keras Andrie Yunus Lolos Pemecatan
Baca lagi: Apakah All Wishes Come True Punya Post-Credit Scene?


