Bos Instagram Bantah Sembunyikan Fitur Remaja di Aplikasi

Jakarta, Chief Tablet Indonesia

Bos

Instagram

Adam Mosseri membantah tuduhan jaksa AS yang menyatakan pihaknya menyembunyikan informasi terkait rendahnya penggunaan fitur remaja dari publik dalam sidang di California pada Selasa (26/8).

“Saya tidak menyuruh tim saya untuk menyembunyikan apa pun,” kata CEO Adam Mosseri di California, dikutip dari

The Guardian

, Rabu (26/8).

Sebelumnya, Meta dituntut oleh sejumlah negara bagian Amerika Serikat. Perusahaan milik Mark Zuckerberg ini dituduh dengan sengaja membuat anak-anak kecanduan menggunakan platform-platform besutannya dan menutupi dampak buruknya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Negara-negara bagian AS juga menuduh bahwa Meta secara rutin mengambil data anak di bawah usia 13 tahun tanpa izin orang tua. Hal ini melanggar undang-undang federal dan negara bagian.

Selama sidang berlangsung, Mosseri ditanya berkali-kali terkait alasannya tidak mengungkap jumlah pengguna fitur remaja yang sedikit di Instagram. Kemudian, dugaan tersebut ditepisnya.

“Kami tidak menerbitkan setiap angka statistik secara detail,” tegasnya.

Kemudian, Jaksa untuk negara bagian Colorado, Jason Slothouber bertanya seputar salah satu fitur remaja di Instagram bernama ‘Take a Break’.

Fitur ini dibuat untuk mengingatkan pengguna remaja agar menutup aplikasi jika terdeteksi berselancar terlalu lama di Instagram. Menurut Slohtouber, hanya 1,8 persen remaja yang menggunakan fitur tersebut.

Merespons pernyataan Slothouber, Mosseri membantahnya. Menurutnya, Instagram tidak pernah mengumumkan angka pengguna fitur Take a Break ke publik.

“Saya sudah bilang secara terbuka bahwa tingkat penggunaannya rendah. Saya tidak tahu apakah saya pernah menyebutkan angkanya secara spesifik,” jelas Mosseri.

Sidang yang berlangsung di pengadilan federal Oakland, California ini dimulai sejak minggu lalu. Jika Meta terbukti bersalah, perusahaan akan didenda sebesar US$200 miliar (Rp3.545 triliun) dan dipaksa untuk mengubah desain produknya supaya lebih ramah terhadap pengguna anak.

Para ahli hukum menyatakan bahwa hasil akhir dari sidang ini dapat mengubah secara total cara kerja aplikasi media sosial bagi anak-anak.

Kendati demikian, Meta membantah semua tuduhan tersebut. Menurut Meta, negara-negara itu hanya mencari uang bayaran yang tidak masuk akal.

Juru bicara Meta turut angkat bicara dan mengatakan bahwa tim keamanannya selalu berusaha memberikan keamanan yang terbaik.

Menurutnya, kesaksian Mosseri ini menunjukkan bahwa perusahaannya melakukan penelitian untuk mencari cara untuk meningkatkan pengalaman pengguna.

Selama seminggu terakhir, juri turut memanggil Arutro Bejar selaku mantan insinyur keamanan Meta. Menurut kesaksiannya, Meta menerapkan strategi menutup mata dan mulut terkait keamanan anak di platform mereka.

Para juri juga mendengarkan kesaksian dari seorang psikolog dan beberapa karyawan dan mantan perusahaan tersebut.

Sidang ini diperkirakan akan terus berlangsung hingga bulan September. Beberapa orang lainnya seperti CEO Meta Mark Zuckerberg juga diundang untuk memberi kesaksian.

(nad/dmi)

Baca lagi: Ahli Ungkap Pemicu Utama Banjir Bandang Nepal: Gletser Runtuh

Baca lagi: Kebanyakan Main Hp Jangan Dianggap Sepele, Ini Dampaknya pada Tubuhmu

Baca lagi: Ahli Ungkap Alasan Kebakaran Hutan Makin Sulit Dipadamkan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: