
Jakarta, Chief Tablet Indonesia
—
Presiden Amerika Serikat (AS)
Donald Trump
resmi meluncurkan kebijakan larangan impor
robot humanoid
dari China. Langkah ini diambil untuk melindungi proyek pengembangan kecerdasan buatan (AI) di AS dari potensi ancaman keamanan nasional, sekaligus memicu pemindahan pusat manufaktur industri strategis kembali ke dalam negeri.
Komisi Komunikasi Federal (FCC) mengumumkan kebijakan tersebut pada Selasa (28/7), yang isinya melarang masuknya produk baru robot humanoid dan robot anjing, serta perangkat power inverter buatan China. Perangkat inverter ini memiliki peran penting dalam menyambungkan sumber energi terbarukan dan baterai ke jaringan listrik maupun infrastruktur pusat data.
Pembatasan ini menunjukkan upaya pemerintahan Trump dalam mengamankan rantai pasok AI mereka dari ancaman gangguan, pencurian data, dan serangan siber China, sekaligus mendorong industri untuk mengalihkan pabrik mereka ke Amerika Serikat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Perangkat-perangkat ini berpotensi menciptakan celah kerentanan pada rantai pasok yang dapat mengganggu stabilitas ekonomi serta keamanan nasional AS, sekaligus menimbulkan risiko siber bagi infrastruktur vital Amerika,” kata FCC dalam keterangan resminya, melansir
Reuters
, Rabu (29/7).
Ketua FCC Brendan Carr menambahkan bahwa instansinya akan terus berkontribusi aktif dalam menjaga keamanan rantai pasok nasional.
Para analis memproyeksikan bahwa robot humanoid yang dibekali otak AI ini bakal diadopsi secara luas di sektor industri maupun konsumen. Sementara itu, pembangunan pusat data besar-besaran di AS sangat bergantung pada pasokan inverter yang andal.
Menteri Keuangan Scott Bessent sebelumnya memperingatkan bahwa perusahaan AI asal China bisa dikenakan sanksi jika mereka terbukti mencuri hak kekayaan intelektual milik Amerika.
Para pejabat AS juga berupaya keras mencegah terulangnya skenario penguasaan bahan tambang tanah jarang. Pasokan material krusial untuk industri teknologi tinggi tersebut selama ini sangat didominasi oleh China, hingga Beijing mampu memanfaatkannya sebagai posisi tawar dalam diplomasi internasional.
Robot-robot China jadi sasaran
Aturan yang langsung berlaku saat diterbitkan ini hanya menyasar model robot dan inverter yang belum dirilis. Kendati begitu, FCC tetap berwenang mencabut izin penjualan bagi model-model yang sebelumnya sudah terlanjur mengantongi izin edar di AS.
Larangan ini diprediksi bakal memukul Unitree, salah satu pemimpin pasar robot humanoid dunia yang menguasai hampir seperlima pangsa pasar global.
Salah satu raksasa teknologi itu baru saja dimasukkan ke dalam daftar perusahaan yang didukung militer China oleh Departemen Pertahanan AS. Ini jadi sinyal awal sebelum datangnya sanksi AS yang lebih berat.
Unitree belum lama ini menjalin kemitraan dengan Nvidia untuk menggunakan chip AI Blackwell sebagai ‘otak’ robot buatan mereka. Pihak Nvidia menyatakan bahwa data dari robot tersebut akan tetap berada di AS dan mayoritas pelanggan terbesar Unitree adalah lembaga akademik dan penelitian Amerika.
Namun, AS tetap khawatir terhadap robot-robot buatan China itu. Mereka menduga robot-robot itu bisa dipakai untuk memata-matai industri penting AS, mencuri data, atau melumpuhkan fungsi-fungsi vital dari jarak jauh.
“Robot-robot ini mengumpulkan data yang berpotensi dimanfaatkan oleh pihak tak bertanggung jawab untuk mengawasi warga Amerika, meningkatkan kemampuan intelijen asing, atau mengendalikan robot secara jarak jauh,” ungkap FCC.
(dmi)
Add
as a preferred
source on Google
[Gambas:Video Chief Tablet]
Baca lagi: DPR Minta Kematian Sutrimo Diusut Tuntas: Kondisi Mirip Keracunan
Baca lagi: Toyota Avanza dan Innova Buatan Indonesia Laku di Luar Negeri
Baca lagi: Jaga Kedaulatan Ekonomi, 90 Persen Pemasok MIND ID Berasal dari Lokal

